23 Sep
2020

“Nopia.. Nopia..,” Oleh-oleh Khas Tak Terlupakan dari Stasiun Purwokerto

first_imgNamun, kini masa telah berganti, seiring sterilisasi stasiun, pedagang sudah ditertibkan tak lagi boleh masuk ke dalam stasiun ataupun kereta api. Tetapi, nopia ini bisa seperti lanting yang dijual oleh pedagang di kios-kios stasiun. Mungkin, bagi penumpang yang niat dan ingin makan nopia, rela untuk berlari menuju kios demi mendapatkannya menjadi hal yang wajar. Meski pada faktanya, tak banyak yang nekat, lantaran perhentian kereta api jarak jauh di Stasiun Purwokerto hanya terbilang singkat, tidak seperti di Stasiun Cirebon.Sebenarnya apa sih nopia itu? Nopia sendiri merupakan makanan khas Purwokerto yang sulit ditemukan di daerah lain. Nopia merupakan salah satu jajanan yang memiliki bentuk bulat yang khas dimana bulat tetapi sisi sebelahnya rata sehingga bentuknya tidak bulat sempurna. Jajanan ini memiliki cita rasa yang manis khas gula jawa. Apa saja sih bahan-bahannya dan kenapa bisa manisnya berbeda dengan jajanan lain?Ternyata nopia dibuat hanya dari tiga bahan dasar yakni tepung terigu, gula merah dan air serta dipanggang dengan tungku khusus. Memang sederhana, tapi ternyata pembuatannya tidak sesederhana bahan-bahan pembuat. Sebab, nopia ini harus dibuat dua adonan terlebih dahulu yakni kulit dan adonan isi. Pertama, untuk kulit dengan mencampur terigu, gula pasir, air dan minyak sayur, kemudian digiling hingga bisa digulung.Kemudian, buat adonan isi dengan campuran terigu dan gula merah. Setelahnya, bulatkan adonan isi sebesar bola ping pong dan dibungkus adonan kulit. Nopia ini dimasukkan dalam gentong atau diletakkan di atas tungku khusus yang terbuat dari tanah liat dan dibakar dengan kayu bakar yang berasal dari pelepah pohon kelapa. Namun saat ini bisa dipanggang dengan oven. Dulu hanya ada dua macam rasa yakni manis karena berasa gula merah dan rasa bawang goreng.Baca juga: “Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun KeretaTetapi kini nopia sudah berisi berbagai rasa seperti cokelat, durian, nangka dan lainnya. Tak hanya nopia, ada juga mino atau mini nopia dengan ukuran lebih kecil. Mino ini memiliki bentuk bulat tetapi gula merah isiannya biasanya menempel pada dinding dalam kulit nopia. Karena memiliki tekstur keras, nopia sendiri mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama. Harga jualnya pun bervariasi mulai dari Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per bungkusnya.Share this:Click to share on Twitter (Opens in new window)Click to share on Facebook (Opens in new window)Like this:Like Loading… RelatedCari Pecel Pincuk? Yuk Ke Stasiun Garahan!23/05/2018In “Darat”Jangan Lupa Makan Pecel Kalau Mampir di Stasiun-Stasiun Ini23/07/2020In “Darat””Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun Kereta23/01/2018In “Darat” Nopia, jajanan khas Purwokerto Kulineran dan membeli oleh-oleh saat melancong ke suatu tempat sepertinya hal lumrah, apalagi bila destinasi yang dikunjungi memang memiliki makanan tertentu dan tidak ada di kota lain alias khas kota tersebut. Seperti halnya pada masa lalu, saat belum adanya zona sterilisasi di bagian dalam stasiun, setiap pedagang boleh bahkan hampir terlihat wara-wiri ketika ada kereta yang berhenti untuk langsir. Bahkan saking ‘nyaringnya’ pekikan para pedagang keliling tersebut, bisa menjadi ‘penanda’ bahwa Anda telah tiba di stasiun-stasiun tertentu.Baca juga: Cari Pecel Pincuk? Yuk Ke Stasiun Garahan!Biasanya para pedagang ini menjajakan kuliner asli di kota tempat stasiun tersebut berada. Seperti lanting yang dijual di Stasiun Gombong dan pecel pincuk di Stasiun Garahan. Kali ini KabarPenumpang.com akan membahas nopia, makanan khas dari Purwokerto. Dulu, penjual nopia masih bisa bebas keluar masuk stasiun bahkan ke dalam kereta pun tak segan menjajakan jualan mereka.Ilustrasi (istimewa)last_img

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments